Who's View Me

Tuesday, September 12, 2017

Tak Selamanya Malaikat Bersayap

Jakarta, 13 September 2017
Sebuah cerita pendek dari tokoh yang buat saya menginspirasi

Matahari cerah menemani langkah awal petualanganku dengannya. Senyum nan berwibawa mengawali sapanya di pagi itu. Hari pertamaku bekerja di sini.

“Selamat pagi, Ibu,” begitu aku menyapa ramah.

“Ihh.. enggak usah panggil Ibu lagi. Panggil Mbak aja ya, biar enggak ketuaan,” balasnya diiringi tawa segar.



Sampai sekarang, hangatnya perjumpaan pertama itu tak lekang jua. Masih nyata terasa. Sang waktu, yang katanya bisa menghapus kenangan, tampaknya tak berkuasa mengikis memori. Aura keibuan, perempuan setengah baya itu, berhasil menghalau canggungku dihari pertama. Beliau bukan hanya atasanku dibagian Penunjang Penelitian, tapi juga jadi pandu dan suluhku. Wiwik Rositawati. 

Banyak nilai kehidupan yang memancar darinya. Tak perlu mendengar ceramahnya tentang kejujuran, lihat saja integritasnya. Tidak usah repot membicarakan kebaikannya, tengoklah luas dan lebar pengertiannya. Kasihnya tercurah seperti tiada habisnya. Hatinya lembut bagai kapas. Setitik noda kesombongan tak akan kau dapati dalamnya. Sikapnya yang tegas seolah pas jadi pembungkus mulianya karakternya. Hidupnya adalah teladannya. Satu dan utuh.

Mungkin orang mengira aku berlebihan dalam penilaian. Itu pun tak mengapa. Soalnya, tak ada satu pun yang bisa membantah rasa. Itu suara hati yang berbicara. Hanya aku yang dengar. Tiada yang lain.



Aku (kiri) dan Bunda Wiwik (Kanan)

Jadilah Penolong – Sebuah Nasihat yang Tak Terlupakan

“Rina, jadilah penolong bagi sesama.” Nasihat itu tak pernah hilang dari ingatan. Kata-kata itu terus terpatri di hati. Bahkan sampai saat ini, walau aku tidak lagi bekerja bersamanya. Momennya, kalau tak salah, ketika penilaian PMS pertamaku.

Bekerja dibagian Penunjang Penelitian, memang agak berbeda dengan yang lain. Kami adalah jembatan antara dokter dan perusahaan. Mereka adalah dokter yang sedang melanjutkan studi dan melakukan penelitian. Oleh karenanya, “jualan” kami adalah jasa.

Reagen adalah kebutuhan dominan para dokter itu. Pereaksi kimia yang digunakan untuk penelitian. Harganya mahal. Satu kit bisa sampai lima belas juta rupiah. Biaya yang besar dan peran pentingnya dalam laboratorium, membuat reaktan ini menjadi sentral.

Salah satu pelayanan kami adalah membantu penyediaan reagen bagi para dokter. Tugas ini tak semudah seperti kelihatannya. Urusan impor-ekspor dan segala birokrasinya tentu sangat menguras tenaga dan pikiran. Ini sering jadi kendala utama. Akibatnya, pesanan sering datang terlambat.

Dalam situasi inilah, para dokter sering panik. Tak jarang, kami sering jadi sasaran kemarahan mereka. Alhasil, sering juga semuanya ikut terbawa suasana.

Pada situasi inilah, Mbak Wiwik memainkan perannya. Beliau selalu memberi wejangan. “Pekerjaan kita itu berbeda dengan yang lain.” kalimatnya lembut mengalir. “Dokter yang mau penelitian pastinya sedang sekolah. Mereka pasti ingin hasil yang terbaik, sesuai dengan uang yang dikeluarkan untuk membeli reagen.” sambungnya tenang. Dia berhenti sejenak. Dengan tatap lembutnya, “Di sini kita akan banyak menerima keluhan kalau tidak helpfull.” tandasnya.

Beliau selalu menganjurkan agar kami bisa menguasai diri. Kami dihimbaunya agar tidak putus akal kala para mitra dokter kalang-kabut. “Kadang mereka panik.” awal nasihatnya. “Namun, kita harus bisa jadi orang yang selalu menenangkan. Kita tidak boleh ikut panik ya.” Wejangan itu mengalir disertai senyum lembutnya. Sejuk terasa.

Dengan saran-sarannya, pekerjaan membantu penelitian dokter jadi penuh kesenangan. Ada kepuasan. Bahagia karena bisa membantu orang lain. Gembira rasanya menolong seseorang berhasil meraih gelar akademisi.

Aku bersyukur berjumpa dengan Mbak Wiwik. Beliau adalah sosok yang melakukan apa yang dikatakan. Dia selalu konsisten dengan ucapannya. Beliau gemar menolong. Banyak rekan kerja dan para dokter pun berpenilaian serupa tentangnya.


Dermawan Pujian

Ada cerita lain yang membekas hangat. Satu kali, aku disibukkan dengan data statistik. Tugasku, waktu itu, mendata hepatitis C tiap cabang di Indonesia. Kemudian mengolahnyadengan perangkat SPSS. “Hari-hari yang penuh warna dengan data.” kenangku.

Kemudian, Mbak Wiwik menyajikan hasil olahan data itu dalam rapat. Pesertanya adalah para dokter dan pemilik reagen di Indonesia. Kuakui, Beliau menyuguhkannya dengan baik.
Di hadapan para peserta rapat, Beliau mengatakan bahwa aku yang telah membantu mengolah datanya. Waktu itu aku masih anak baru. Tentunya, pujian itu langsung menambah semangat kerja berlipat ganda. Bahkan, berkali-kali aku dipujinya atas hasil kerjaku. Tak jarang pujian itu dilontarkan di hadapan para dokter peneliti. Sanjungan itu memompa gairah dan antusiasme kerjaku. Sungguh, beliau tidak pelit dalam pujian, khususnya kepada sub-ordinatnya.

Seorang Team Player

Beliau pun team player nan flamboyan. Kerjasama tim sangat diutamakan. Kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Dia selalu melatih kami untuk berkolaborasi; saling menutup celah dan kelemahan.

Suatu ketika, bagian kami diminta mengeluarkan sebuah hasil pemeriksaan. Tugas ini sebenarnya belum rutin dikerjakan di Prodia. Pemeriksaan itu dilakukan pada sebuah wet simpo. Peserta simposium diambil darah di pagi hari pertama. Keesokan harinya, hasil kemudian dibagikan.

Hari pertama simposium adalah Sabtu. Sampai siang, kami menunggu hasil tes dari PRN berupa print out dari alat. Selanjutnya, secara manual, kami memasukkan hasilnya ke bentuk hasil pasien.

Selama proses pengerjaan itu, Beliau ikut menemani kami. Partisipasinya aktif dalam memeriksa hasil. Dia ingin agar tidak terjadi kekeliruan. Bahkan, Beliau turun tangan dalam memasukkan hasil ke dalam amplop hasil. “Ini kerja tim, jadi kita harus sama-sama ambil bagian.” katanya.

Di saat lembur bersama, Beliau menyediakan pizza hut sebagai kudapan. Tindakan kecil itu menghalau rasa lelah. Aku pribadi merasa diperhatikan dengan baik. Rasa kompak, dalam tim kecil kami, kian erat terajut sempurna.

Satu pelajaran lain tentang bekerja tim. Tidak pernah diajarkannya agar kami egois. Ketika itu, kami terdiri dari 3 orang. Suatu kali, salah seorang dari kami cuti agak lama. Alasannya, kalau tak salah, untuk mengurus anggota keluarga yang sakit. Perlahan Mbak Wiwik memintaku mengambil alih tugas teman kami itu.

Mbak Wiwik yang mencontohkan. Sebagai atasan Beliau tahu detail pekerjaan anggota timnya. Beliau menyarankan, agar aku pun harus bisa semuanya. Tujuannya kalau satu rekan absen, aku bisa mengganti perannya. “Kita satu tim. Kita harus saling menolong dan mengisi.” begitu nasihatnya. Betapa mulia hatinya.



Bukan Atasan Biasa

Beliau teman makan siang yang mengasyikkan. Biasanya di momen ini, aku suka curhat. Cerita tentang apa saja, keluarga, pacar (suamiku sekarang), pekerjaan, pertemanan, tentang semuanya. Rasanya nyaman berbagi dengannya. Diajarkannya aku nilai kedewasaan dalam menyikapi semuanya.

Dia pun menjadi sosok ibu yang menjadi panutan. Itu diperankannya dalam bentuk perhatian pada anak dan keluarganya. Setiap istirahat siang, Beliau tidak pernah lupa menelepon anak buah hatinya. Dia selalu memberi perhatian, sekecil apa pun itu, ditengah kesibukannya.

Kelak, aku ingin seperti Beliau. Sosok ibu yang memberi perhatian kepada keluarga.


Tim Penunjang Penelitian yang terdiri dari 3 orang
Perempuan dengan Lautan Perhatian dan Toleransi

Mbak Wiwik sangat pengertian dan perhatian. Dia cerdas dalam menangkap situasi. Dia mengamati dengan baik setiap orang. Sehingga, tak jarang Beliau memberi “kelonggaran” pada rekan kerjanya.

Dari kecil, orang tuaku tidak membiasakan agar tidak masuk sekolah. Jika hanya flu atau demam, aku pasti tetap masuk. Hal itu terbawa sampai ke lingkungan kerja. Aku jarang sekali absen. Selagi aku masih sanggup, aku pasti akan tetap ke kantor.

Pernah sekali, aku terserang flu berat. Mbak Wiwik menganjurkan agar istirahat di rumah saja. “Agar cepat sembuh.” katanya.

Aku berpikir, “Jarang atasan menganjurkan anak buahnya tidak masuk!?” Namun ya, dia perhatian kepada sub-ordinatnya.

Kami memang berbeda agama. Aku Kristiani dan Beliau Muslim. Namun perbedaan itu tidak pernah jadi masalah buatnya. Setiap hari raya, Beliau selalu mengucapkan Selamat Natal atau Selamat Paskah. Aturan yang mengharamkan ucapan hari raya tidak berlaku buatnya. Beliau penuh kasih, toleransi, dan menjunjung tinggi nilai kebhinekaan.


Engkau adalah Bunda Malaikat Tak Bersayap

Seiring berjalannya waktu, panggilan Mbak berubah menjadi Bunda. Bunda Wiwik, begitu aku memanggilnya sekarang. Beliau memang layak jadi Bunda buatku. Bunda yang mengajari aku dalam berkarya. Bunda yang mendorong aku agar sekolah lagi. Bunda yang terus memotivasi, “Rina pasti bisa!”

Empat tahun kami bertualang bersama. Di akhir tahun keempat, Bunda pindah bagian. Sedih beraduk-campur dengan senang. Sedih karena tidak punya atasan seperti Bunda lagi. Tapi sekaligus senang karena Bunda mendapatkan promosi. Sesuatu yang pantas untuknya.

Di tengah adaptasinya di lingkungan baru, kami masih sering makan siang bersama. Dorongan semangatnya masih terus jadi “menu” utama. Rasa optimisme terus dipompanya. Dia pun masih tetap ringan tangan kala diperlukan.

Kini, aku pun berada di posisi yang baru. Seperti halnya Beliau, setahun kemudian aku mendapat promosi. Aku berdiskusi dengannya, apakah aku ambil kesempatan ini. Beliau berkata, “Diambil dong Rin! Ini kesempatan, Rina pasti bisa!” kata-kata tersebut memantapkan pilihanku.

Kini aku akan bekerja sebaik mungkin di posisi baru ini. Aku punya warisan pesan-pesan Bunda. Dengan bekal ini, aku akan berusaha memberi yang terbaik. Aku berjanji tak akan mencoreng arang di kening Bunda.

Kadang hati bertanya, “Sesempurna itukah kau, Bunda? Betulkah kau tak bernoda-cela?" Aku memaksakan diri untuk terus mengingat. “Apakah gerangan sifat jelekmu yang menjengkelkan?”

Lama aku bertanya pada diri sendiri, namun tak jua menemukan jawab. Ah, sudahlah. Lagian, tak selamanya malaikat bersayap.

Terima kasih Bunda Wiwik.




PS: Cerita ini aku ikutkan lomba di kantor mengenai tokoh yang menginspirasi namun belum menang. Tapi aku bangga pernah menulis ini :D

Friday, August 4, 2017

Makaroni Goreng Ala-Ala

Jakarta, 3 Agustus 2017

Ternyata kayanya aku punya bakat masak deh, ahahhaaaaa.. *tertawa bahagia*

My first trial in cooking

Jadi ceritanya beberapa minggu yang lalu, aku latah keikutan temen barengan pulang beli makaroni Rp. 5000 di bapak tukang sayur.Tapi sampai sekarang tuh makaroni masih teronggok di dalam plastik hitamnya di atas kulkas. Rp. 5000 ternyata dapet banyaaak loh makaroninya..
Tiap hari aku liatin plastik hitamnya, kasian ga diapa-apain. Lama-lama jangan-jangan si makaroni membusuk (eh, bisa busuk ga sih makaroni? :P)

Akhirnya tadi nyempetin ngintip internet buat tau tuh makaroni bisa diapain aja.. kebetulan hari ini sampai di rumah ternyata ga ada siapa-siapa. Suami juga pulang malam. Pas banget....

Berbekal resep internet, akhirnya dengan modal pas-pas an dengan bahan seadanya di dapur, dimulailah acara masak memasak ala-ala chef Rinchan :D

B A H A N
1. Makaroni mentah 2 genggam tangan
2. Minyak 1 botol tutup aqua
3. Tepung Terigu (di resep internet sih, tapi kenyataannya pakai Tepung Sasa :D)
4. Bon Cabe Level 15

C A R A
1. Panaskan air yang sudah ditambahkan minyak goreng (kurang lebih 1 cup tutup botol aqua) hingga hampir mendidih
2. Masukkan makaroni secukupnya yang mau dimasak
3. Tunggu sampai matang (10-15 menit), tiriskan
4. Taburi dengan tepung terigu agar tidak lengket saat digoreng.
menurut saya mending taburi tepungnya agak banyak aja, krn kalau terlalu sedikit, jadi lengket di wajannya..
5. Jika sudah dingin, goreng dengan api kecil-sedang.
6. Berikan bumbu bon cabe.

B U K T I 
Makaroni Goreng Ala Chef Rinchan
BERHASIL/GAGAL ?
Pertanyaannya sulit yaaa :D
Kalau dari warna dan penampakannya sempurnaaaa bgtttt, jempolan deh, siapapun pasti tertipu hihihihi, tapi saat dimakan, ternyata ada yang masih keras, tapi ada juga yang enaaakk.. Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin proses merebus makaroni (di tahap paling awal) menjadi titik kritis. Pastikan makaroninya mengembang sempurna agar tidak keras. Pastikan makaroninya matang sempurna.

Tapi buat saya pribadi yang tidak bisa masak sama sekali (kecuali indomie dan telur off course) ini adalah A BIG SUCCESS ^_^


P E S A N
Jangan takut gagal. Mencobalah. Apa yang sepertinya mustahil (contohnya masak) pasti bisa kalau kita mencoba. Jika gagal, petik hikmah dari kegagalan itu, kemudian ayuk kita coba lagi :D

Selamat mencoba teman-teman :)

Tuesday, August 23, 2016

Kuliah Lagi

24 Agustus 2016

Sebenernya udah lama banget mau nulis dan mau cerita tentang ini, tapi apalah daya belum sempet2 aja.. Pada kali ini aku mau cerita tentang beasiswa S2 yang sekarang lagi aku jalani.
Begini ceritanya..

P E R M U L A A N
Sebenernya uda lama banget pingin kuliah S2 lagi. Udah niat pingin belajar lagi. Pingin tambah pinter. Pingin update ilmu. Apalagi di perusahaan sekarang banyak banget temen2 yang lulusan S2 yang dibeasiswain sama perusahaan. Jadi dulu perusahaan bekerjasama sama UNHAS untuk beasiswain karyawannya. Nah pas banget tahun 2015 kemarin berakhir krn jumlah nya sudah pas target. Jadi aku kapan dongg sekolahnyaa.. Sampai akhirnya cari-cari beasiswa S2 dari LPDP. Sempet mau apply tapi terkendala belum test TOEFL. hehehehe.

Lalu tibalah saatnya, ternyata perusahaan sekarang bekerjasama dengan UNPAD untuk buka konsentrasi pelajaran baru yaitu konsentrasi biokimia klinik. Setelah melalui tahap seleksi sana-sini, akhirnya saya pun diterima sebagai penerima beasiswa. Horray.. Dan pas diakhir  2015 lalu, kami pun resmi jadi mahasiswa baru S2 UNPAD Jurusan Farmasi Klinik Konsentrasi Biokimia Klinik.
Waktu pendaftaran mahasiswa baru pakai jas almamater dulu :)
P E R K U L I A H A N
Sekarang sedang liburan semester. Bulan depan akan dimulai perkuliahan semester 2. Namun saya mau cerita tentang semester 1. Kami seangkatan terdiri dari 13 orang. Karyawan Prodia semua dari segala wilayah (Se-Indonesia). Karena sudah lama tidak belajar, rasanya tuh... menyenangkan bisa belajar lagi. Ditambah begadang hampir tiap malem buat menyelesaikan tugas kuliah, dan paper. Oiya sistim perkuliahan di S2 berbeda dengan S1. Jadi kalau S2 sudah bukan dosennya lagi yang presentasi menjelaskan namun harus anak muridnya yang menjelaskan terlebih dahulu dengan cara presentasi hehehehe. Jadi begadang buat bahan presentasi itu rasanya WOW banget lohhh..

Kuliah nya kami bagi di Jakarta dan di Bandung. Tergantung jadwal dosennya, bisanya kapan dan dimana. Kalau di Bandung kami menginap di Hotel Rio Dafam, di jalan Riau. Kebayang yaa tiap sore kami selalu jajan jajanan Bandung di Jalan Riau dan mencicipi kafe-kafe di sekitaran sana.. Ini contohnya kami makan di warung upnormal dan di pasar cisangkuy hihihihi..
Jajan di Bandung setelah Kuliah
Perkuliahan kami menyenangkan karena keluarga baru ini yang begitu menyenangkan juga. Bahkan saat ini di saat libur kuliah, jadi kangen mau cepet-cepet kuliah lagi. hihihihi. Pingin ketemu mereka, dan pingin begadang lagi :D

Oiya, puji Tuhan IPK semester 1 saya bisa mencapai 4. Semua berkat doa dan dukungan dari keluarga besar yang sangat aku sayangi. Terlebih buat pengertian suami yang selalu setia menemani begadang disaat saya ngerjain tugas hihihihiii..

Ini foto lengkap kami beserta salah satu dosen kesayangan kami, yaitu bu Jutti dari UNPAD. Bu Jutti ini kalau mengajar sangat jelas dan suaranya lembut dan sangat baik hati. Kami berfoto krn ibu terakhir mengajar kami di semester 1 kemarin. Foto ini diambil di kampus UNPAD yang di Jl. Eijkman, Bandung. :)
Foto bersama bu Jutti

Monday, July 11, 2016

Kegiatan Membaca Mengurangi Resiko Alzheimer

Tulisan ini diterbitkan di http://bukuonlinestore.com/kegiatan-membaca-mengurangi-resiko-alzheimer/
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama suami istri yaitu saya dan suami, hehehe.. Rasanya senang sekali membantu suami menulis, khususnya dalam bidang kesehatan, yaitu bidang yang saya kuasai dan geluti. Simak tulisan kami berikut ini :)

Terinspirasi dari sebuah film sedih Korea yang berjudul “A Moment To Remember” yang mengisahkan tentang percintaan seorang wanita yang bernama Su Jin dengan kekasih hatinya yang bernama Chul Soo. Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia. Mahligai rumah tangga mereka diuji setelah beberapa tahun kemudian. Sang istri menunjukkan kesulitan mengingat tempat, angka, tanggal, bahkan jalan pulang. Namun, peran mengharukan datang dari sang suami yang tetap begitu setia menemani sang istri hingga pada akhirnya sang istri pun lupa mengingat keluarganya termasuk suaminya.
Kisah ini begitu meluluhkan hati sehingga membuat penasaran apa penyakit yang dialami Su Jin tersebut. Kemudian diketahuilah bahwa penyakit kesulitan mengingat tersebut dinamakan Alzheimer.

Apa Itu Alzheimer?

Alzheimer adalah gangguan penurunan fungsi otak. Utamanya fungsi kognitif otak yang menyerang memori otak. Ini dapat berpengaruh terhadap fungsi sosial bahkan pekerjaan. Gejala penyakit ini bertahap atau berkembang dengan seiringnya waktu. Diawali lupa akan sesuatu (misalnya tempat atau waktu) yang selanjutnya akan menjadi kebiasaan bahkan sampai lupa pada perilaku dan disorientasi. Bahkan tidak mampu melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain. Gejala utamanya adalah dengan menyerang otak itu sendiri yaitu mudah lupa atau pikun.
Penyakit Alzheimer sampai saat ini belum diketahui dengan jelas penyebabnya. Namun, disebutkan bisa terjadi karena beberapa faktor berikut: faktor genetik, faktor lingkungan, pertambahan usia, dan adanya penumpukan plak protein b-amiloid, dsb. Biasanya penyakit ini menyerang orang yang sudah lanjut usia. Namun seperti di kisah film “A Moment To Remember” tadi, penyakit ini pun dapat menyerang orang yang lebih muda.
Tidak ada pemeriksaan khusus untuk membuktikan seseorang mengidap atau mengalami Alzheimer. Untuk mengetahui seseorang mempunyai penyakit Alzheimer, biasanya dokter akan bertanya seputar masalah dan gejala yang dialami pasien serta melakukan tes medis yang lainnya untuk memastikan kondisi yang dialami penderita bukan karena penyakit lain.
Obat-obatan yang dapat mencegah penyakit ini juga belum ada dan belum ditemukan sampai saat ini. Biasanya penderita Alzheimer ditangani secara psikologis melalui stimulasi kognitif untuk memperbaiki ingatannya dan memulihkan kemampuan orang tersebut dalam memecahkan masalah dan membantu hidup mandiri.

Membaca dan Menulis Dapat Mengurangi Risiko Terjadinya Alzheimer

Kegiatan membaca merupakan salah satu cara yang efektif dalam upaya pencegahan gejala penyakit ini. Membaca membuat otak kita terlatih dalam mengingat dan berpikir, sehingga otak terus bekerja. Dalam website resmi Alzheimer dikatakan bahwa otak perlu ditantang dengan aktivitas-aktivitas yang dapat terus membantu membangun sel-sel otak baru. Ini berguna untuk memperkuat hubungan di antara sel-sel otak tersebut. Hal ini dapat melawan efek berbahaya dari penyakit Alzheimer. Kegiatan yang dapat menantang otak tersebut adalah seperti membaca, mengerjakan teka-teki silang dan bermain catur.
Sebuah studi baru dalam jurnal Neurology (2013) menunjukkan hasil bahwa membaca buku dan majalah, menulis, dan berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat merangsang mental lainnya, dapat membantu untuk menjaga memori dan kemampuan berpikir tetap utuh. Hal ini menguatkan penelitian sebelumnya yang diterbitkan di Archives of Neurology (2012), bahwa seseorang yang menjaga otak tetap aktif sepanjang hidup, ditemukan memiliki kadar protein b-amiloid lebih rendah. Protein b-amiloid adalah protein yang memainkan peran utama dalam penumpukan plak amiloid yang dapat menyebabkan penyakit Alzheimer. Agar menjaga otak tetap aktif, salah satunya dapat dilakukan dengan kegiatan membaca atau menulis.
Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa kegiatan membaca ternyata dapat berdampak positif terhadap Alzheimer. Membaca dapat membantu untuk menjaga kesehatan otak. Kegiatan ini juga dapat membantu terus merangsang otak agar terus aktif. Juga dapat membantu membangun sel-sel otak baru. Maka dari itu membaca sejak usia dini dapat mencegah penyakit Alzhaimer di kemudian hari.
Jadi, kegiatan membaca (termasuk menulis) bukan hanya bermanfaat untuk kegiatan intelektual semata. Kegiatan ini ternyata juga bisa menyehatkan tubuh. Dalam hal ini adalah organ otak. Jadi, mari membaca dan menulis.

Thursday, January 28, 2016

One Day Trip: Curug Barong, Curug Cepet, Curug Lieuk, Curug Leuwi Hejo

"Take vacations, go as many places as you can. You can always make money, you can't always make memories."
Jakarta, 16 Januari 2016

Sabtu.. Weekend.. Cerah.. Dan Sahabat. Perfect. Ini waktunya buat one day trip ke 4 curug. Ga jauh-jauh kooooq, cuma di sekitaran bogor.. Lebih tepatnya cumaaaan di sekitaran sentul aja koq.. dan kita bisa ngeliat berbagai macam curug disini. Terus udah bisa mandi2 air terjun cantik, bisa berenang cantik atau yang mau lompat cantik dari atas batu di air terjun juga bisa (ya kali ada yang mau hahahahaa). Dan tentunya bisa foto-foto cantik (hobi gue banget yang ini).. Nih gue ceritain pengalaman gue dari awal sampe akhir..

P E R S I A P A N
Dari mulai seminggu sebelumnya, gue udah nyari sendal gunung buat trip ini loh (niat kan) karena katanya di trip ini kita kudu tracking, mendaki gunung lewatin lembah gitu deh.. Ya.. secara gue cuma punya sendal - sendal cantik atau sendal jepit, Jadi aja gue kudu belilah ya itu sendal gunung. Tapi daripada beli yang mahal-mahal dan cuma sekali pake kan sayang ya..
Mending gue beli yang murah meriah dan wah aja lah yaaa.. Akhirnya bertepat di pasar paseban, pasar yang ngehits karena murahnya dan terletak di depan kantor gue pas tinggal jalan dikit, gue belilah sandal gunung itu buat gue dan suami gue.daaaan harganya cuma 30 ribu rupiah. Yieeeeyy yippiiiiiwww..(NB: dan sampe trip ini berakhir alias ampe hari ini tu sendal masih awet dan masih kuat)

Bukti Keseruan


T H E D A Y
Bunyi alarm jam 04.00 pagi gue pasang dengan volume maksimal.. hahahaaa.. Yiey its time to go...Krn kita ikutan travel tur (namanya super travel), dan meeting point nya di stasiun bogor, akhirnya gue ama suami tercintah berangkat naik kereta.
Dari stasiun cikini jam 06.00.. (kebayang dari kramat sentiong jadi jam 05.30) perjuangan kan bangun pagi di hari sabtu (lebay).. untungnya ga ada macet dan tentunya ga ada badai, sampe juga kita di stasiun cikini jam 07.30an lah.. baru ada 4 orang (yang punya travelnya malah telat.. dasar..) terus ga lama kemudian gue ketemu sama geng kece: Daniel, Meri dan Alex. Dan disana kenalan sama temen2 baru, namanya mas Sule, mas Wibi (ini dari super travel nya dua orang) trus ada mba Nila orang menteng (pake hijab cuman lincah abis dah orangnya, supel dan hobi di foto juga hihi), sama ada Didi gebetannya mer. Ups..
Akhirnya setelah alex telat krn grab taksinya kudu anterin dia ampe masuk stasiun (halah), kita naik mobil sewaan si travel (sebut saja angkot, wkwkwk) terus berangkatlah kita ke area curug itu.. ngelewatin kebun binatang, sentul, dll.. Kira-kira kita sampe di tempat tujuan sekitar jam 09.30 an..
under water.. foto cantik..
Tracking pun dimulai.
Area pertama yang dituju adalah curug barong. Baru tanjakan pertama aja kayanya tuh udah capai lelah ga kuat. Hahahhaa.. Aseli dah kalau orang yang terbiasa kerja kantoran duduk, ga biasa jalan kayanya koq ya berat bgt jalannya.. tapi untungnya ada banyak warung yang jualan makanan disitu. Langsung deh singgah, yang sarapan mending sarapan dulu biar ga pingsan. Oiyaa area curug ini masih alami banget. Jadi yang jualan juga seputaran masyarakat yang emang tinggal disana. Harganya juga standard lah..
Es Teh manis 5.000, Indomie pake telor 10.000, Aqua: 5.000, harga penitipan barang 3.000.
Kayanya hampir tiap mau menuju curug kita singgah ke warung yang jualan. Hehehehee..
Terus disana ada banyak juga anak-anak kampung situ yang pada main air, jadi kalau yang suka foto yang alami-alami, pasti pas bgt objek fotonya, ada banyak lah objek foto disana mah..
Trackingnya lumayan, bagi gue ya, yang ga pernah jalan jauh. Tapi gue bisa dilewatin krn nginget bakal ketemu aer terjun yang oke bangett. Pas ketemu aer yang masih jernih.. itu rasanya surga banget. Aernya makin lama makin dalem, untung aja ada suami siaga yang siap jagain gue kapan pun dan dimana pun. Hahahhahaaaa..Pokoknya seru lah. Temen-temen barunya juga seru-seru. Oiya, gue lupa bilang kalau one day trip ini harganya 140.000/orang saja. Kita disana sampe jam 16.00 dan lalu mandi di tempat WC yang seadanya terus siap-siap pulang. Yang lucu, pas pulang angkot yang kita naikin ga bisa nanjak. Hahhahaa.. Akhirnya yang cowo2 turun dan jalan ke angkot yang nanjak dengan anak cewe semua.
Titik akhirnya kita dibalikin lagi ke stasiun bogor lagi. Dari situ kita makan malem dulu di KFC yang ada di depan stasiun dan lalu pulang ke rumah masing-masing. Serius ini seru bgt.

Pengalaman baru gue : tracking dan ternyata gue kuat juga yaaaaaaa...
Narsis dulu yaaa
Video tambahan dari yang punya travel:

video

Friday, January 8, 2016

The Important Day in My Life (3) : The Wedding Day

Jakarta, 29 Oktober 2015

Yeay, this is the day!
Dari subuh hari super rempong, dibangunin ama orang rumah. Padahal sebenernya dari kemarin malem itu kurang banget tidurnya.. secara ya, saudara2 gue segambreng dari kampung (baca: dari Medan) pada uda dateng dan nginep di rumah gue yang alhasil rumah gue jadi sempit ituu. trus lo tau kan kalo orang batak itu kalo ngomong ga pernah ga kenceng?? yah.. itulah keadaan rumah gue dari malem kemarin.. bagaimana gue bisa tidur kan yaaa..

N Y A L O N
Kira2 dari jam 2an, udah pada dibangunin orang-orang rumah buat pada gantian mandi. Nah secara gue pengantennya kan, gue lah yang pertama kali disuruh mandiii. Abis itu pada gantian mandi dah tuh orang-orang, sementara pintu diketuk ama tukang salon..

tok tok tok..

Nah, gue pastinya dong yang didandanin pertama kali. Didandanin kurang lebih selama sejam lah.. hasilnya gue suka, natural lah.. Biaya buat salon ini 3.5 juta.. tergolong murah lah yaa udah sama bunga tangan, bunga buat jas cowo dan bunga2 di rambut gue dan rambut orangtua cewe (nyokap gue dan calon mertua cewe gue).
taraa.. hasil salon nyaaa

Abis itu pake baju dan songket yang rada ribet dan ketat itu (oemji, gue menggendut di hari H) hahahahaaa.. yasudlah ya, yang penting masi muat hahahhahaha..

Trus yaa.. mau jalan pun susyah bangetttt.. ditambah sepatu gue tinggi. Pake sepatu pendek aja gue jatoh apalagi pake sepatu tinggi yak hahahaha..

Dan bener dong kejadian, pas mau keluar rumah buat potoan sama keluarga, jatoh ngedubrak ke belakang ampe pantat belakang sakiiiiit.. Pengalaman ya pake sepatu tinggi. Demi cantik di hari H. Udah selain hari ini gue ga mau koq pake tuh sepatu tinggi lagi..

Tibalah keluarga mempelai lelaki dan pendamping laki yaitu si Richo Sianipar, dateng buat jemput gue.. setelah minta ijin dll, akhirnya naik juga ke mobil pengantin. hihihihi seru yaaaa..

P E M B E R K A T A N
Sebelum ke Gereja buat pemberkatan, kita ke gedung dulu, di Gedung Gelanggang Olahraga Rawamangun. Disana ada cara keluarga, gue jepitin bunga tangan ke jasnya si abang dan si abang kasi bunga tangannya ke gue.. ada adatnya gitu deh.. intinya sih pihak mempelai wanita menerima pihak mempelai pria gituu. harusnya acara ini dilakuin di rumah cewe, tp karena keluarganya banyak dan takut telat sampe gereja, jadinya dilakuin di gedung aja soalnya jarak gedung dan gereja cuma 5 menit. Dekeeet bgt.. trus di acara ini ada makan-makan juga dan ada adatnya gituuu..

Abis itu, pindah ke Gereja buat pemberkatan. Di pemberkatan acaranya lebih simple dari martumpol. Jadi tinggal disahkan aja gitu yaaa. Yang dateng banyak.. yang surprise ada Indah dan Rangga, temen akrab dari SD gue dulu.. seneng terharu.. Geng Kece juga lengkap disini.. *bahagia bangettttt*

Puji Tuhan lancar ini acaranya..walaupun dilakukan di hari Kamis ya ini pestanya, tp ternyata banyak bgt yang dateng.. terharu banget ternyata banyak yang perhatian sama akuhhh.. :*

R E S E P S I
Laluuu abis itu, kita bergerak ke tempat resepsi. Baru aja turun dari mobil, uda ada dong rombongan dari Bandung yang pada cantik2 uda pada sampe sebelum acaranya dimulai. Jauh2 ke Jakarta cuma buat liat guee.. huhuhu. so happy to have you all friends..
Rombongan Bandung
Yang kocak kita berdua disuru duduk aja lagi di mobil ama abangnya suami aku, yaudah dong kita berdua duduk duduk cantik di mobil, trus krn kelamaan ga ada tanda2 dipanggil, gue ajak suami gue buat keluar. Beneran dong pas keluar mobil, langsung dipanggil dan ditanya darimana udah dari tadi dicariin krn acara ga akan mulai2 kalo ga ada kita berdua. hahahhaaa

Abis itu langsung adat.. ada penari dll.. Seneng super seneng, krn gue pesta di hari kerja, tuh rombongan PRODIA full yang dateng. Temen2 buanyakk bgt yang dateng. Seneeeeng pisan. Akhirnya gue di singgasana (jadi raja dan ratu sehari) bisa buat selfie2 hihihihi..

Paling sedih pas acara ngasih ulos hela. Jadi orang tua gue kasi ulos ke suami gue disertai pesan2 karena melepas gue. Sedih bgt.. disitulah gue ga bisa tahan dan air mata mengalir kencang.
Bangga bisa menjadi bagian dari adat Batak yang walaupun ribet tapi berkesan sangat.

Pernikahan hanya awalnya, yang terpenting adalah menjalani pernikahan itu sendiri.
Ya Tuhan, semoga kami bisa menjadi keluarga yang memberikan warna baru dalam keluarga besar dan kami bisa meniti rumah tangga kami dengan baik dan berkenan kepada Mu.

Aminnn.. *I'm so happy*
Selfie di singgasana


Friday, October 16, 2015

The Important Day in My Life (2) : Martumpol

Jakarta, 16 Oktober 2015

M A R T U M P O L
Tepat banget hari ini, hari Jumat, gue dan calon suami martumpol. Cie sekarang uda bilang calon suami, sementara di postingan sebelumnya masi bilang cowo gue. Hahahaha *abaikan *norak *ga penting dibahas.. πŸ˜„πŸ˜„

Kalau di batak, arti martumpol itu adalah semacam tunangan, biasanya disimboliskan dengan tukar cincin. Tapi menurut gue sendiri, martumpol ini punya makna yang lebih dalem sih. Pertama jelas ada ibadah di gerejanya. Trus di dalam urutan tata acara gereja itu ada acara membacakan ikat janji perkawinan, diantaranya sepakat dan sungguh2 merencanakan perkawinan, saling mengasihi dan menolong, tidak bercerai sampai maut memisahkan, dan taat aturan gereja. Ini dalem bgt krn kami berdua membacakan janji ini di depan seluruh jemaat. Lalu abis itu ada acara klarifikasi perjanjian pernikahan yg artinya kita ditanyain satu2, apakah ada hubungan dengan seseorang yang belum diselesaikan. Hubungan pacaran loh ya bukan hubungan perhutangan wkwkwk.. selain kita masing2, orang tua masing2 juga ditanyain ama pendetanya.. ya kali aja kita boong kan ya. Tp orangtua kan polos, mereka pasti tak bisa boong. Ahahahaa. Barulah abis itu acara tukar cincin. Trus yang paling terharunya saat dia bilang gini:
"Rina Triana Purba, Jalo ma cincin on songon tanda holong ni rohangku na so hea muba tu ho." Sambil naro cincin di tangan kanan gue yang mungil. Artinya kira2 begini: sayang, terimalah cincin ini sebagai tanda cintaku yang tak pernah pudar kepadamu. So sweeeeeetttt..♡♡
Ekspresi Setelah Tukar Cincin, see we looks so happy..
Sebenernya sih acara inti martumpol itu aja sih. Tp rempongnya sebelum hari ini itu yang rempong.
1. Kamis kemarin kudu gladi resik sama pendeta. Pendetanya jayus gitu. Garing garing lucu ga lucu tanpa ekspresi. Trus dia ngerjain gue kudu hapalin tu bahasa batak yg tuker cincin itu buat besok. Dan setelah susah tidur krn takut lupa kata2nya, ternyata pas hari H alias tadi boleh nyontek alias lirik2 ke kertas acara.. jreng.
2. Masih di hari Kamis, pesen snack (roti) ke Majestik, abis itu kita kudu masukin tu roti ke kardus kecil2 buat snack beserta aquanya.. untung dirumah uda rame banyak pasukan. Jadi ga cape2 bgt.
3. Td pagi ke salon dari subuh. Jam 4 an ni rumah udah rame. Uda disuruh2 mandi. Soalnya emang kamar mandi cuma 1 sih, jd kudu gantian, tp kan ga dari jam 4 juga ya mandinya. Terus pas ke salon si salonnya buat sanggul gue tinggi bgt kaya ibu2, langsung dong gue protes, ga mau tau minta diganti.
4. Cincin buat martumpol ini kita baru beli H-2. Biasanya di grafir mah langsung jadi. Nah ini yg grafir tukangnya tutup, jadi baru bisa diambil H-1. Ini ya apa2 serba dadakan sih ya hahaha..

M A R H U S I P
Nah.. sebenernya krn anutan sistem ekonomi yg gue sebutkan kemarin, serta untuk menghemat waktu dan tenaga dan uang hahahaa.. jd hari ini sebelum martumpol, di dahului dengan marhusip di lt.1 Gereja (aula). Kebetulan gereja gue itu guede bgt (mungkin bisa dijadikan cluster mewah tuh) dan si aulanya boleh disewakan buat pertemuan2 gt *inget ga ada sesuatu yang gratis, ke wc umum aja bayar hahaha
Nah intinya tu aula semacam rumah gue. Nanti keluarga besar si calon suami (cieee..) datenglah ke rumah gue, dan disambut oleh keluarga besar gue.. trus mereka disana berpantun2 an samnil diakhiri dengan kata2 immatutu. Hahaha itu doang kata yang berhasil gue tangkep.
Acara ini diakhiri dengan gue dan calon suami (cie lagi hahaha) diperkenalkan ke keluarga besar kedua belah pihak, lalu diberi nasehat lah kan, trus nasehat dari keluarga purba ke gue: intinya sih itu laki gue uda ganteng bgt jd ga ada alasan liat2 yang lain. Beuh, bukan bermaksud bilang ini nasehatnya ga mutu, tapi apa ga ada nasehat lain? Calon suami gue ganteng? Ih, udah tau dari dahulu kala, sejak pertama kali pacaran keuleus. Hahahahaa.. terus kita dikasi duit 2000 an 3 lembar dari si parhata dari keluarga purba dan pangaribuan. Lumayanlah dpt 12 ribu gratis. πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

M A R R I A R A J A
Nah selesailah rangkaian acara hari ini. Dari mulai marhusip-martumpol-marriaraja. Marriaraja ini artinya kaya semacam pembentukan panitia buat pernikahan gue nanti gitu. Kalo di acara ini yg paling banyak berperan sih bokap nyokap dan keluarganya sih. Oiya.. di acara ini sekaligus bagi2 undangan gt. Di undangannya yg dibagiin uda diselipin uang 500an (sebanyak 110 undangan) dengan harapan yang diundang dateng. Gile ya mau ngundang aja selain bayar undangannya, bayar amplop trus ngasi 5000 lagi *mulai deh perhitungan ahahahaaa becandaaaa..
Selain itu gue dr kmrin uda amplop2 in juga tuh duit buat ke hula2, buat ke punguan dll.. kalo amplop ini artinya supaya mereka bawa ulos nanti pas di pernikahan gue nanti.. ya gpp sih kalo ini hihihi..
Gue ga ngikutin banget sih acara ini ngapain, krn gue duduk sendirian di pojokan bingung mau ngapain dan akhirnya gue ngemilin snack yang ada.. *inget kebaya rin.. hihihi

our happy moment
Sekian cerita hari ini. Semoga kami bisa menjadi pasangan yang memberi teladan akan cinta kasih. Amin..

Bersambung lagi nanti di pesta pernikahan akooohh, akhir Oktober ini hihihihi.. πŸ˜™